Sore itu aku benar-benar gelisah, tat kala fajar mulai menyingsing dan sosok ketakutan akan hari esok perlahan-lahan mulai membayang. Lamunan keraguan terhadap langkah kaki kecil ini tentang suatu kehidupan yang lebih layak seolah terasa berat sekali. Berbagai macam spekulasi-spekulasi berkecamuk memborbadir landasan optimisme yang semakin rapuh karena bimbang. Banyak orang merasa bangga dan bahagya ketika mendapat banyak peluang sukses dalam langkah hidup nya. Dan sekilas pandangan tersebut memang benar, karena akan semakin banyak pilihan berarti akan semakin banyak kesempatan, atau bahkan malah bisa dijalani semuanya.
Seperti mata yang sedang berkunang-kunang, tak mampu membedakan garis terang dan gelap secara sempurna, begitulah bingungnya kondisi otak ku saat ini. Terjebak diantara persimpangan kesuksesan yang semakin hari waktu semakin mendesakku untuk segera memilih mana jalan yang terbaik, adalah sebuah hal yang sama seperti memeilih keju atau susu, its deficult to chose once of them.
Lama aku duduk termenung memandang senja yang temeram ditemani suara nyaring dari burung-burung yang hendak pulang ke kandang. Berdiskusi lirih dengan alam mendengarkan suara bisik sejuknya sedikit membantuku mengerucutkan segala bentuk spekulasi. Namun secara keseluruhan tak mempu mereduksi betapa penatnya pilihan ini.
Tiba-tiba aku terbangun dalam lamunan semu, dan berusaha menggerayah kehidupan nyata. Disitulah aku teringat pada seorang guru sekaligus orang yang paling ku hormati yang juga merupakan Bapak ku sendiri. Serta merta jemari ini berliyuk-liyuk diatas keypad HP untuk memencet nomor sang suhu kehidupan tersebut.
"Iya halo,,,,", dengan suara serak namun tetap tegas terdengar, suhu kehidupan itu menjawab telphone ku.
"iya pak,,,", jawab ku singkat.