Kekasihku adalah kekasih nomor satu di dunia versi perhitungan ranking ku sendiri. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya dia telah mengisi ruang-ruang diantara jemariku lalu kemudian menggenggamnya dengan erat selama 2 tahun lebih. Fisiknya memang tomboy yang menjahui kata feminin, rambutnya memang keriting yang memusuhi kata lurus, namun dia bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan yang aku miliki dengan melengkapinya dengan yang dia miliki. Sungguh indah kisah ini beralur, entah itu maju maupun mundur, namun semuanya benar-benar bertabur dengan nilai-nilai kehidupan. Mungkin inlah yang dinamakan cinta dewasa, dimana kedatangannya diwaktu yang tepat akan menggugah sebuah sisi tanggung jawab.
Masih teringat sekali ketika dia datang dengan membawa kesejukan diakhir petang. Dia bawa segenggam harapan yang kemudian disiramkannya kepadaku menjadi setetes kekuatan untuk menghadapi hidup yang semakin hari semakin keras. Dia datang disaat bintangku meredup, sehingga tak sempat aku membalasnya dengan rasa bangga karena menjadi bagian dari diriku. Namun itulah dia, entah terang maupun redup keercayaannya dia akan cinta ini telah menyihirku kembali dalam keperkasaan.
Keindahan cinta itu ternyata telah berkoalisi dengan sang waktu, sehingga membuatnya berjalan begitu cepat. Hangatnya senja disore hari yang pernah kita nikmati selama 2 tahun harus segera menghadapi kenyataan bahwa sang petangpun akan segera menenggelamkan siang.
Cinta ini adalah nyata
Sayang ini pun juga
Namun kita tetap jangan terlena
Cinta yang nyata itu adalah TUNTUTAN,, dimana kita harus menjadi sempurna, menjadi yang terbaik dan harus siap saat dihadapkan pada lavel yang lebih tinggi tingkatannya. Dia memang tak pernah menuntutku untuk menjadi sempurna, namun cinta yang nyata senantiasa dihadapkan pada kondisi lingkungan sekitar yang juga nyata. Mereka tak mau peduli, setiap hari terus meluncurkan justifikasi tanpa pernah mau berhenti. Dan aku sadar untuk segera bermetamorfosis menjadi sempurna.