Mendung berontak menenggelamkan keperkasaan sang surya. Riuh guntur menggelegar menciptakan nada-nada rendah tak beraturan yang membuat para malaikat enggan mendekatinya. Angin dan rintik-rintik air halus berkoalisi dengan gelapnya suasana yang mencoba mencekam seluruh isi kehidupan.
"Cak, tolong segera tutup sargasumnya dengan terpal", teriakku pada seseorang bertubuh legam kekar yang dari tadi tak henti-hentinya berusaha menyelamatkan sargasum yang hendak di eksport.
"Iya mas..", sambil berlarian tunggang langgang bersama dengan garuk mungilnya, kuli paruh baya itu mengikuti setiap instruksi ku.
Tak lama berselang, sang hujan yang sama sekali tak kami inginkan kedatangannya di siang itu mengucur dengan bahagyanya membasasi tumpukan sargasum yang belum sempat terselamatkan. Dengan mata nanar berbinar, para kuli hanya bisa meratapi tumpukan-tumpukan sargasum yang jika kering akan menjadi penyambung hidup dia dan keluarga. Sargasum telah basah, harapan merekapun pupus seketika. Nilai rupiah yang dijanjikan tak bisa berubah menjadi nyata jika sargasum tak kering sampai akhir senja.
Ada yang menghela nafas, ada yang membuka baju dan meletakkannya dikepala, serta ada juga yang hanya duduk melamun tanpa sepatah kata yang terucap. Sedangkan sang mandor hanya bisa berteriak dan memaki-maki mereka karena bekerja lambat dan tak bisa menyelamatkan tumpukan daun-daun sargasum itu.