Senin, 28 Februari 2011

Cinta Diujung Bahu

Mendung berontak menenggelamkan keperkasaan sang surya. Riuh guntur menggelegar menciptakan nada-nada rendah tak beraturan yang membuat para malaikat enggan mendekatinya. Angin dan rintik-rintik air halus berkoalisi dengan gelapnya suasana yang mencoba mencekam seluruh isi kehidupan.
"Cak, tolong segera tutup sargasumnya dengan terpal", teriakku pada seseorang bertubuh legam kekar yang dari tadi tak henti-hentinya berusaha menyelamatkan sargasum yang hendak di eksport.
"Iya mas..", sambil berlarian tunggang langgang bersama dengan garuk mungilnya, kuli paruh baya itu mengikuti setiap instruksi ku.

Tak lama berselang, sang hujan yang sama sekali tak kami inginkan kedatangannya di siang itu mengucur dengan bahagyanya membasasi tumpukan sargasum yang belum sempat terselamatkan. Dengan mata nanar berbinar, para kuli hanya bisa meratapi tumpukan-tumpukan sargasum yang jika kering akan menjadi penyambung hidup dia dan keluarga. Sargasum telah basah, harapan merekapun pupus seketika. Nilai rupiah yang dijanjikan tak bisa berubah menjadi nyata jika sargasum tak kering sampai akhir senja.
Ada yang menghela nafas, ada yang membuka baju dan meletakkannya dikepala, serta ada juga yang hanya duduk melamun tanpa sepatah kata yang terucap. Sedangkan sang mandor hanya bisa berteriak dan memaki-maki mereka karena bekerja lambat dan tak bisa menyelamatkan tumpukan daun-daun sargasum itu.

Minggu, 27 Februari 2011

Jodoh ku no 4

"Uhukkk,,,, uhukkkk,,, uhukkk,,,, hmmmmm", tersedak aku mendengar kalimat bapak tua berkulit hitam keriput itu. Perlahan-lahan ku hela nafas dalam-dalam sambil memandang tangan putih pucat ku yang dari tadi mencoba menahan rembasan keringat dingin yang mencoba menyusup dari balik pori-pori diantara jaringan epidermis.
"Jodoh mu adalah yang no 4", kata-kata dari bapak tua misterius itu terus terngiang-ngiang dibenak ku. Beberapa spekulasi-spekulasi tak wajar mulai berkecamuk seperti perang teluk yang pernah terjadi di dunia ini.

Dentuman-dentuman api kewaspadaan menyergap setiap harapan yang pernah tertuang dari balik gudang mimpi. "Dia adalah pilihanku untuk saat ini dan semoga seterusnya. Betapa aku menggantungkan asa pada seseorang yang mengisi hari-hari ku selama tiga tahun ini, pasti bapak tua itu sedang berkhayal. Atau mungkin dia mencoba merayuku untuk dijadikan istri ke 10 nya  dengan memberikan sinyal bahwa dia adalah orang ke 4 itu." Pekikku dalam hati seolah menghadang setiap serangan kata-kata yang menghujam dari bapak tua yang dari tadi tanpa berkedip menatap setiap guratan telapak tangan kuseolah-olah dia mampu membaca sebuah rahasia Tuhan yang digoreskan dalam lembaran telapak daging ini.

"Yang ini adalah cinta semu mu, sedangkan yang ke 4 adalah cinta abadi mu", hardik pak tua itu yang terus menerus mencoba membongkar pertahanan kepercayaan ku. Secara perlahan tapi pasti, mirip dengan reaksi redoks yang distimulus oleh para enzim, kata-kata pak tua itu mulau memperdayaiku dengan cara hinggap dibawah memory tak sadar ku.
"Ah sudahlah pak, terimakasih telah meramalku", jawab ku singkat untuk segera mengakhiri percakapan yang tak masuk logika itu.

Jumat, 25 Februari 2011

Sayup Luruh di Pojok Kampung

Gemercik angin yang saling bekerjaan, kicau burung pecah kesunyian.....
Hijaunya clorofil dedaunan saling memantulkan kilau dari lapisan lilin yang melindungi tumpukan sel-selnya. Tetes jernihnya embun pagi membasahi sejuknya kehidupan yang dibangunkan oleh sang mentari. Bagi kami, tumpukan kemesraan alam diwaktu pagi itu adalah energi semangat yang membuat semuanya menjadi megah.

Energi itupula yang membuat para bocah kampung seperti kami terus menerus dengan tanpa pernah berhenti untuk melambungkan asa. Keterbatasan ekonomi dan fasilitas adalah merupakan tantangan yang harus kami jawab dan pecahkan bersama. Begitu pula yang selalu ku lakukan bersana keempat sahabat kampung ku.

Pagi berangkat sekolah, siang membantu orang tua, sore berangkar mengaji, malam belajar kelompok. Itu adalah strategi paling canggih yang pernah kami lakukan untuk dapat mengatasi masalah sambil terus membentengi diri dengan kasanah agama.

Malam itu adalah kejadian yang tak pernah terlupakan dalam hidup ku. Ketika saudari kampungan ku yang bernama Iin harus membiarkan air matanya meluncur deras diantara parit-parit pipi yang kasar karena hempasan serbuk-serbuk batang kedelai dimusim panen.
"Mungkin aku tak bisa bersama kalian lagi", seru Iin sambil mengumandangkan syair-syair kesedihan dari bibir mungil nya.
"Kenapa in?", teriak ku mengintervensi setiap pondasi pertahanan masalahnya.
"Ojo nangis in", ucap mas Hartono sembari mengelus-elus kepala Iin.
"Aku harus berpisah dengan kalian rek...." jawab iin memandangi wajah kami satu persatu.
"kamu mau nyusul bapak mu di malaysia tah in?" sambung yanto yang semakin memelas.
"Enggak yan, aku bulan depan akan menikah", kata iin yang dari tadi tak pernah berhenti menggaungkan tangis nya.
"Hahhhh?????.... kamu baru kelas 6 in".... timpal mas Hartono yang tidak percaya.
"Iyo mas, karena hanya dengan aku menikah dengan Lek Dhar, aku bisa membantu ibu melunasi hutang2nya", jawab iin dengan menanarkan mata.

Karya dan Pringisan Bocah Kampung

Hari ini aku menatap berjuta ingatan yang tergores dalam memory di kepala tentang segala kisah terindah semasa aku masih berusia belia. Rasanya masih ingat betul ketika aku dengan badan bercucuran keringat yang menyusup dari sela-sela pori-pori muda ku, berlari sekencang-kencangnya sambil mendorong mobil-mobilan mewah yang terbuat dari kulit jeruk Sunkis begitu pula rodanya terbuat dari bahan yang sama. Tak peduli betapa lelahnya aku mendorong mobil-mobilan itu hingga ban nya terlepas dari poros utama. Yang ada hanya rasa riang bukan kepalang saat aku menjadi yang pertama melewati garis finish sederhana hasil karya mas Jono menggoreskan pucuk sabitnya pada tanah coklat pekat di area kebun kopi mbah Tumbar.
Aku: "Ayo yanto!!!, kamu bisa menyusul ku di urutan ke 2", seru ku berteriak pada Yanto sahabat ku di masa belia.
Hartono: "Jangan meremehkan ku", ucap mas hartoono dengan lantang sambil mendorong mobil-mobilan itu sambil melewati batu cadas bekas galian sumur Mbah Tumbar.
Mas Jono: "Finishhhhhhhhh....." teriak mas jono sambil mengibarkan bendera finish yang terbuat dari pucuk daun pisang berwarna hijau pupus di hadapan muka mas Hartono.
Kami pun bersorak sorai laksana para pembalap F1 yang telah menyelesaikan semua lap dalam lomba. Dangan wajah cerah disertai senyum yang merekah, ku lambaikan tangan ku kepada para penonton setia kami yang asik mematuk-matuk sisa-sisa biji jagung di tanah sambil berteriak "Kukuruyuuuuuukkkkk".

Entri Populer