Jumat, 25 Februari 2011

Sayup Luruh di Pojok Kampung

Gemercik angin yang saling bekerjaan, kicau burung pecah kesunyian.....
Hijaunya clorofil dedaunan saling memantulkan kilau dari lapisan lilin yang melindungi tumpukan sel-selnya. Tetes jernihnya embun pagi membasahi sejuknya kehidupan yang dibangunkan oleh sang mentari. Bagi kami, tumpukan kemesraan alam diwaktu pagi itu adalah energi semangat yang membuat semuanya menjadi megah.

Energi itupula yang membuat para bocah kampung seperti kami terus menerus dengan tanpa pernah berhenti untuk melambungkan asa. Keterbatasan ekonomi dan fasilitas adalah merupakan tantangan yang harus kami jawab dan pecahkan bersama. Begitu pula yang selalu ku lakukan bersana keempat sahabat kampung ku.

Pagi berangkat sekolah, siang membantu orang tua, sore berangkar mengaji, malam belajar kelompok. Itu adalah strategi paling canggih yang pernah kami lakukan untuk dapat mengatasi masalah sambil terus membentengi diri dengan kasanah agama.

Malam itu adalah kejadian yang tak pernah terlupakan dalam hidup ku. Ketika saudari kampungan ku yang bernama Iin harus membiarkan air matanya meluncur deras diantara parit-parit pipi yang kasar karena hempasan serbuk-serbuk batang kedelai dimusim panen.
"Mungkin aku tak bisa bersama kalian lagi", seru Iin sambil mengumandangkan syair-syair kesedihan dari bibir mungil nya.
"Kenapa in?", teriak ku mengintervensi setiap pondasi pertahanan masalahnya.
"Ojo nangis in", ucap mas Hartono sembari mengelus-elus kepala Iin.
"Aku harus berpisah dengan kalian rek...." jawab iin memandangi wajah kami satu persatu.
"kamu mau nyusul bapak mu di malaysia tah in?" sambung yanto yang semakin memelas.
"Enggak yan, aku bulan depan akan menikah", kata iin yang dari tadi tak pernah berhenti menggaungkan tangis nya.
"Hahhhh?????.... kamu baru kelas 6 in".... timpal mas Hartono yang tidak percaya.
"Iyo mas, karena hanya dengan aku menikah dengan Lek Dhar, aku bisa membantu ibu melunasi hutang2nya", jawab iin dengan menanarkan mata.


Binatang-binatang malam mengeluarkan bunyi yang berbeda dari biasanya, penuh sendu dan gerutu  dari mereka yang ikut bersedih menikmati kisah nyata dari seorang iin yang harus mengakhiri pendidikan dasarnya di pelaminan. Malam ini aku kehilangan saudari kampungan ku yang biasanya selalu membawakan kami kedelai muda untuk direbus hasil dia ngasak ketika musim panen kedelai tiba. Udara malam yang bercengkerama dengan embun membuat sesak dada kami para bocah kampung yang selalu tidak diberi pilihan dalam menentukan nasib kami sendiri.

Belum juga genap sebulan aku kehilangan saudari kampungan ku, kini sinyal-sinyal perpisahan kembali mencuat dari balik eratnya persahabatan kami.
"Rek, mari lulus SD arep nyang ngendi?"
"Bro, habis llulus SD kalian mau kemana" tanya mas hartono yang begitu bijak dan sedih.
"Aku disuruh ibu ku pindah kekota mas, untuk lanjutin sekolah". jawab ku sambil memegang tali tampar yang mengikat ketiga kambing ku.
"Kalau kamu yan?", tanya mas hartono pada yanto yang dari tadi hanya menatap birunya angkasa sambil mengunyah rumput alang-alang yang jika beruntung akan terasa manis.
"Mboh mas,, mungkin aku bantu simbok garap sawah", jawab yanto yang mulai kecil hanya hidup dengan simboknya karena kedua orang tuanya berangkat ke malaysia menjadi pahlawan devisa.
"Sampeyan sendiri mas?", tanya ku pada sang juru bijak kami itu.
"Sekolah buat ku sudah tidak mungkin". jawab mas hartono yang setelah itu membisu dalam pelukan sejuknya udara sawah tempat kami biasa menggembalakan sapi dan kambing bersama-sama.

Sawah tempat belut bersarang dan menjadi buruan kami di musim tanam kini sudah mengeras menjadi rumah-rumah beton para kaum pengembang yang dengan egoisnya mengubur kenangan masa kecilku sebagai bocah kampung bersama sahabat-sahabat kampung ku. Tiga tahun sudah ku tinggalkan sahajanya kampung ku demi mimpi dan cita-cita yang tergantung tinggi, berharap bisa berkumpul kembali melepas kerinduan dengan para bocah-bocah kampung yang tak pernah kehabisan ide untuk berkarya. Namun ternyata 3 tahun menyulap dengan sempurna kampung ku menjadi kota kecil di ujung timur jawa timur. Kilat-kilat modernisasi telah membunuh capung-capung merah yang selalu menjadi perlombaan kami untuk mengetahui siapa yang paling gesit. semua telah berubah, bahkan mungkin aku pun juga telah berubah.


Sembari duduk di balai bengong hasil buah karya tangan kreatif bapakku, aku duduk termangu menatap ayunan tua yang tergantung di dahan pohon jambu bangkok tempat biasa kami dulu bersanda gurau sepulang sekolah. Kemudian ibu menghampiriku, dan beliau bercerita tentang nasib sahabat-sahabat kampung ku. Berdasarkan cerita ibu yang begitu menguras sisi melancolis jiwa ini, aku mendapatkan fakta yang begitu mengiris hati. Sang juru bijak Mas hartono setelah lulus SD dia menyusul kakang nya untuk bekerja sebagai kuli bangunan di negeri jiran. Dan disuatu hari yang nahas, si juru bijak kami itu mengalami kecelakaan di proyek hingga membuat gumpalan darah diotaknya. Sampai kini nasib kak kampungan ku itu tak jelas kabar wartanya. Sedangkan Yanto, terakhir kabar terdengar dia bekerja dibali, dan karena nasib tak beruntung merundungnya, memaksa dia harus menghabiskan masa mudanya dibalik besi hitam lurus tak berkelok dalam sebuah ruangan sunyi.

Tuhan, kenapa kau ciptakan dunia yang keras ini. dimana peristiwa makan memakan setiap hari harus selalu terjadi. Dan yang selalu menjadi korban adalah mereka-mereka yang tercipta dalam sebuah garis hidup kurang beruntung. Tanpa pilihan, tanpa persamaan hak, dan tanpa pikir panjang, kejamnya roda takdir telah menyingkirkan sahabat-sahabat kampunganku yang mereka tak pernah mengeluh terhadap bangsa yang kaya raya ini.

Mungkin aku bukan satrio piningit yang terlahir sebagai ratu adil dan penyelamat, namun semenjak kejadian itu aku berjanji pada diri ku sendiri. Suatu saat dengan bekal tangis dari sahabat-sahabat kampungan ku serta jeritan kemiskinan yang mengenyangkan perut para koruptor, dengan sekuat tenaga akan ku rubah negeri ini menjadi negeri yang selalu memberikan pilihan pada setiap warga negaranya. Semoga Tuhan selalu bersamaku dalam mewujudkan mimpi sang bocah kampung yang masih tersisa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk kesempurnaan karya selanjutnya,,,,,, Mohon diisi komentarnya ya.... Matur nuwun...

Entri Populer