Lama aku berdiri disudut parit yang eksistensinya semakin rapuh. Mata ini mengobservasi tiap jengkal lahan yang kian lama semakin menyempit. Debu-debu tanah seolah menyapa dan mengadu padaku tentang nasibnya yang tak lagi menjadi bagian keindahan dari kampung halaman ku. Saraf-saraf perifer yang dari tadi berdenyut mengencang seolah mengkuak kembali kisah manis di masa lalu yang semakin menggoda tiap senyumku.
Ditempat aku berdiri ini dulu adalah zona bebas orang tua yang membuat kami selalu riang gembira menghabiskan masa kanak-kanak bersama sahabat kecilku. Masih teringat jelas dalam lamunan ini ketika kami berlarian tunggang langgang saat pak mantri mengambil tongkat rotannya sambil meneriaki kami,
"Dughallllll".
Pak mantri adalah seorang pegawai perhutani yang bertugas di daerah ku. Karena pengabdian dan dedikasinya yang luarbiasa terhadap negara, akhirnya beliau diberi sebidang tanah yang letaknya tak jauh dari zona bermain kami. Entah siapa nama beliau hingga saat ini aku tak tau. Yang aku tau adalah seorang lelaki sudah berumur dengan tingkat kedisiplinan tinggi dan super duper galak. Apa lagi kalau tanaman dan ikan kesayangannya di kolam depan rumah diganggu dengan ulah bocah-bocah dughal macam kami. Hmmmmm pasti dia akan segera mengeluarkan tongkat rotan keramatnya untuk menakut-nakuti kami.