Lama aku berdiri disudut parit yang eksistensinya semakin rapuh. Mata ini mengobservasi tiap jengkal lahan yang kian lama semakin menyempit. Debu-debu tanah seolah menyapa dan mengadu padaku tentang nasibnya yang tak lagi menjadi bagian keindahan dari kampung halaman ku. Saraf-saraf perifer yang dari tadi berdenyut mengencang seolah mengkuak kembali kisah manis di masa lalu yang semakin menggoda tiap senyumku.
Ditempat aku berdiri ini dulu adalah zona bebas orang tua yang membuat kami selalu riang gembira menghabiskan masa kanak-kanak bersama sahabat kecilku. Masih teringat jelas dalam lamunan ini ketika kami berlarian tunggang langgang saat pak mantri mengambil tongkat rotannya sambil meneriaki kami,
"Dughallllll".
Pak mantri adalah seorang pegawai perhutani yang bertugas di daerah ku. Karena pengabdian dan dedikasinya yang luarbiasa terhadap negara, akhirnya beliau diberi sebidang tanah yang letaknya tak jauh dari zona bermain kami. Entah siapa nama beliau hingga saat ini aku tak tau. Yang aku tau adalah seorang lelaki sudah berumur dengan tingkat kedisiplinan tinggi dan super duper galak. Apa lagi kalau tanaman dan ikan kesayangannya di kolam depan rumah diganggu dengan ulah bocah-bocah dughal macam kami. Hmmmmm pasti dia akan segera mengeluarkan tongkat rotan keramatnya untuk menakut-nakuti kami.
Laki-laki yang sudah berumur dengan kacamata besar yang hamir memakan wajahnya itu adalah momok yang paling menakutkan bagi kami. Apa lagi kalau kami melakukan tindakan indisipliner dan melanggar norma agama, beliau tak segan-segan menghukum kami ala militer. Pernah suatu ketika Aris secara tak sengaja menabrak tiang bendera usang milik beliau yang selalu tercantol sang merah putih di pucuknya hngga roboh. Ketika sang dwi warna itu menyentuh tanah, pak mantri dengan cekatan mendirikannya kembali dan mengejar Aris hingga tertangkap. LAlu beliau menghukum Aris untuk hormat pada bendera itu sampai magrib.. Huffff,,, bisa dikata dia adalah jelmaan Hitler bagi kami kaum Bocah Dhugal dusun dam telu.
Di suatu siang yang sangat penat dan lembap akibat hujan yang tak kunjung turun di akhir musim panas, seperti biasa kami duduk-duduk dibawah pohon kopi yang usianya lebih tua dari pada kami.
"Fuhhhhh,, panase rek", teriak mas hartono sambil melepas kaos lusuhnya.
"Iyo mas puanas banget", timpal aris yang dari tadi bertengger diatas pohon kopi tua bersejarah itu.
"Kalo panas2 gini enaknya mainan apa yooo?", balas ku seraya ikut merasakan penderitaan kami yang harus terdiam tanpa ada mainan ataupun hal-hal usil yang harus dikerjakan.
"Mainan petak umpet aja", teriak yanto memberikan usul yang dengan cekatan langsung kami tolak.
"Hmmmm Gendheng kamu yan, gara-gara permainan itu kemarin kandang nya mbah nasirah hampir roboh gara-gara sapinya kaget karena kamu ngumpet disana", jawab mas Hartono selaku pimpinan kelompok kami.
"Aku tau,,,, Kita mancing aja gimana?" teriak Aris dari atas pohon kopi.
"Setujuuuuuuuu....." sela ku meng amini usulan Aris.
"Mau mancing dimana? ikan-ikan di kolam orang-orang kan dah kita potas seminggu yang lalau. Mau mancing dimana lagi?", sergap Mas Hartono yang kelihatan enggan.
"Mancing di Pak Mantri aja mas", jawab yanto sambil membenarkan sendal jepitnya yang copot.
"Idemu Buruk kali ini yan", teriak ku sambil melempar daun kopi kearah yanto.
"Tapi aku setuju... Sudah saatnya kita balas kesemana-menaan pak mantri terhadap kita", seru Aris dengan mata yang ingin membalas dendam.
"Mmmmm,,, Boleh juga. Kita tunjukkan pada dia kalau kita para bocah-bocah Dhugal tak takut menghadapi dia.. Setuju !!!", orasi mas Hartono membakar semangat keusilan kami semua.
Setelah orasi ke-usilan yang membakar jiwa tersebut, kami segera mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan, termasuk perlengkapan kami untuk melarikan diri. Dengan mengendarai sepeda unthil, kami anggota geng dhugal berangkat menuju area pertempuran. Dengan sudah meneliti kondisi tempat target sasaran kami, akhirnya tepat jam 12 siang ketika pak mantri sedang istirahat siang, kamipun melancarkan operasi gerilya ala geng dughal.
Operasi diang itu berjalan lancar, dengan kaos yang kami tutupkan ke mata, hampir tak ada yang mengenali wajah kami dalam memancing ikan Pak mantri yang badannya begitu menggemaskan. Namun aneh bukan kepalang, hampir 2 jam kami melemparkan kail yang dibalut umpan, tak seekorpun ikan tergoda dengan umpan lezat kami.
"Sepertinya ikan-ikan pak mantri lagi tidur siang mas", celoteh ku sambil menahan rasa prustasi.
"Husss,,,, ngawur kamu, mana ada ikan tidur", jawab mas hartono sambil memukul kepala pelontos ku.
"Kita nyebur ke kolam aja mas, untuk cari tau ikannya tidur apa tidak", timpal yanto dengan wajah lugu sambil menggulung tali pancingnya.
"Setujuuuuu,.,,,, itung-itung sambil renang mas untuk mendinginkan kepala", teriak aris dengan api balas dendam pada pak Mantri yang terus membara.
Entah siapa yang memulai duluan, tiba-tiba kami semua dengan cekatan melepas baju hingga telanjang lalu menceburkan diri kami beramai-ramai di kolam milik pak Mantri yang airnya jernih dan sejuk itu.
Gelak tawa riang kamipun tak terhelakkan, sebuah suara kebahagiaan polos yang bisa kami dengungkan untuk menghibur diri ditengah kemiskinan. Keceriaan itu tak terbendung lagi, hingga membuat ikan-ikan gemuk itu mulai mabuk dengan tingkah-tingkah konyol kami. Namun keasyikan itu tak bertahan lama, hingga akhirnya suara menggelegar disertai makian khas militer memekakkan telinga kami.
"Pak Mantri........................" seru yanto si pencetus ide gila itu yang sudah lari duluan.
TAnpa pikir panjang kami semua langsung mengambil langkah seribu dan segera menyembunyikan diri dibaik semak-semak tak jauh dari kolam itu.
Namunnn,,,, Alamaaaaakkkkk.... karena kepanikan itu, geng Dhugal tak waspada, hingga kami semua berlari sembunyi meninggalkan pakaian kami tertinggal di pinggir kolam pak Mantri.
Dengan jantung yang masih dag-dig-dug menahan rasa takut tertangkap pak Mantri, kami terengah-engah dibalik semak-semak itu. Hingga akhirnya secara tak sengaja belalai gajah eh salah, waktu itu masih belum jadi belali gajah, namun masih jadi cacing,*hehehehe*, punya si aris menempel di punggung mas Hartono. Dengan sigap mas Hartono pun langsung memekik karena kaget..
"Cacing mu Ris,,,, "... Seru mas hartono yang serta merta membuat tempat persembunyian kami tercium oleh Pak Mantri.
Takut dihukum Pak MAntri, kami pun langsung lari tanpa arah dan tujuan meninggalkan semua pakaian kami yang sebenarnya masih berpeluang untuk kita ambil kembali. Dengan umbai cacing yang terus bergoyang-goyang, kamipun berusaha menghindar dari serbuan Pak Mantri dengan membuang rasa malu jauh-jauh. Dari kejauhan nampak pak Mantri tertawa lebar dengan wajah kemenangan. Pakaian kami yang tertinggal itupun dia ambil dan ditaruhnya diatas genting tua balai bengong miliknya. Sedangkan kami hanya bisa meratapi kesialan siang itu dengan cara mencari akal bagaimana menutupi cacing kecil ini agar tak dilihat semua orang.
Jarak tempat itu dengan rumah kami masing-masing masih sekitar 1Km. dengan medan harus melewati bengkel Pak lek HAsyim, kemudian warung Pak mul, dan rumah Denok yang menjadi kembang mini desa kami. "Huffff,,,,, alamak.... bagaimana ini caranya", pekikku dalam hati.
dengan cekatan dan sigap, kamipun mencari perlindungan masing-masing. Yanto mengambil kardus bekas supermi yang tergelatak di pinggir kandang mbah Nasirah, lalu kardus itu dgunakan untuk menutupi cacing kecilnya. Mas hartono, dengan pemikiran kreatif ala bocah papua, dia langsung mengambil daun pisang untuk membungkus cacing kecilnya. Seraya taku mau kalah, Aris pun memungut gentong kecil yang pecah bibirnya untuk dijadikan penampung cacing mungilnya. Sedangkan aku, karena lambat bergerak hampir tak menemukan apa-apa untuk membungkus cacing cute ku. Hingga pada akhirnya kutemukan plastik kecil berwarne hitam-putih hitam-putih yang dengan cekatan langsung kugunakan melingkari pinggul.
Ini benar-benar menjadi 1 Km yang sangat panjang bagi kami. Bagaimana tidak, kami harus mengendap-endap tiap berjalan dan berlari. Jika kondisi masih ramai, kami harus menunggu beberapa saat sampai kondisi lumayan sepi. Namun perjuangan yang paling berat adalah ketika kami harus melewati rumah Denok. Karena dihari itu dia sedang berada dihalaman untuk menyirami bunga mawar merah kesangan dia. Lama kami mengendap di pohon jambu yang berada tepat disisi sebelah kanan rumah denok, sedangkan dia tak kunjung juga masuk kedalam rumah. Hingga adzan maghrib akan berkumandang, dia pun masih dengan riang menyiwami bunga-bunga itu sambil mendendangkan irama-irama kesukaannya.
Karena takut dimarahi orang tua kami, akhirnya kita pun memutuskan hal yang paling nekat. Mirip dengan Rambo yang harus belari dengan kencang ketika melewati perkampungan para vietkong, kamipun melakukan hal yang serupa. Untuk membungkus urat malu, akhirnya kami memutuskan untuk melumpuri wajah manis kami dengan lumpur di parit kecil dekat rumah denok. Ketika mas Hartono menghitung sampai 3, secara serentak kamipun langsung lari dengan pembungkus cacing yang unik tanpa berani menoleh ke rumah Denok. Hmmmmm semoga saat itu Denok tak tau, kalau buaya buntung yang sering menjadi mitos kampung kami itu adalah para Dhugal cilik yang memiliki segudang ide usil.
Semenjak kejadian itu, kamipun tak berani lagi lewat di depan rumah Pak Mantri. Sedangkan setiap bertemu dengan Denok, rasa khawatir bercampur was-was karena takut identitas kami saat pelarian memalukan itu terbongkar.
hmmmmm.... itulah kenangan paling memalukan yang bisa ku posting malam ini.... tunggu postingan pengalaman seruku berikutnya yaaaa.......................
Wkwkwkwkwkwk
BalasHapusPengalaman yang unik dan lucu sob
Untung cacing nya gak hinggap ke mawar si Denok, hahahahahaha
Bisa-bisa bahaya tuh,,
By: Johan lampung
hehehehe,,,,, tenang aja bro.. Cacing nya dah masuk kresek. Jadine dah aman,, dan sidenok pun tak kwatir.. hahahaha.
BalasHapusThx untuk commentnya bro..
wakakakakakaakakakakakka.... dasar cacing dhugal... ceritanya kocak mas bro... hahahahaha....
BalasHapushehehe... itu cacing nya dah jadi belut sekarang Feb... hohohoho.. thx commentnya. tunggu postingan berikutnya ya....
BalasHapuscacinng cutenya gag di goreng ya mas????kalo q jd pak mantrinya udah tak goreng caing2 nya mas....hahahahahh
BalasHapusHussss... ngawur... Itu cacing keramat boy.... kalo digoreng bisa-bisa cacing nya berubah jadi keong racun tar.. hehehehe....
BalasHapus