Sore itu aku benar-benar gelisah, tat kala fajar mulai menyingsing dan sosok ketakutan akan hari esok perlahan-lahan mulai membayang. Lamunan keraguan terhadap langkah kaki kecil ini tentang suatu kehidupan yang lebih layak seolah terasa berat sekali. Berbagai macam spekulasi-spekulasi berkecamuk memborbadir landasan optimisme yang semakin rapuh karena bimbang. Banyak orang merasa bangga dan bahagya ketika mendapat banyak peluang sukses dalam langkah hidup nya. Dan sekilas pandangan tersebut memang benar, karena akan semakin banyak pilihan berarti akan semakin banyak kesempatan, atau bahkan malah bisa dijalani semuanya.
Seperti mata yang sedang berkunang-kunang, tak mampu membedakan garis terang dan gelap secara sempurna, begitulah bingungnya kondisi otak ku saat ini. Terjebak diantara persimpangan kesuksesan yang semakin hari waktu semakin mendesakku untuk segera memilih mana jalan yang terbaik, adalah sebuah hal yang sama seperti memeilih keju atau susu, its deficult to chose once of them.
Lama aku duduk termenung memandang senja yang temeram ditemani suara nyaring dari burung-burung yang hendak pulang ke kandang. Berdiskusi lirih dengan alam mendengarkan suara bisik sejuknya sedikit membantuku mengerucutkan segala bentuk spekulasi. Namun secara keseluruhan tak mempu mereduksi betapa penatnya pilihan ini.
Tiba-tiba aku terbangun dalam lamunan semu, dan berusaha menggerayah kehidupan nyata. Disitulah aku teringat pada seorang guru sekaligus orang yang paling ku hormati yang juga merupakan Bapak ku sendiri. Serta merta jemari ini berliyuk-liyuk diatas keypad HP untuk memencet nomor sang suhu kehidupan tersebut.
"Iya halo,,,,", dengan suara serak namun tetap tegas terdengar, suhu kehidupan itu menjawab telphone ku.
"Ada apa le?", tanya nya tanpa basa-basi. Kemudian kujelaskan sebait demi sebait kebimbangan yang terjadi dalam otak optimis ini. Dengan nada kebapakan dan intonasi serius tapi santai, beliau pun menjawab.
"Hadapilah hidup dengan tegas tanpa pernah mengeluh, karena lelaki sejati pantang untuk lari dari kenyataan".
Akupun tersontak mendengar kalimat pertama dari beliau. Lalu aku bertanya pada hal yang lebih prinsipil pada realitas.
"Apakah Bapak pernah terjebak pada sebuah pilihan yang sulit dan harus memilih?", tanyaku mempertegas kebingungan ini.
"Pernah . . .", timpal Bapak ku dengan cekatan. Belum sempat ku menimpali dengan pertanyan introgatif yang lebih spesifik, beliau sudah berdeklamasi tentang hidupnya.
"Waktu itu bapak masih muda dan baru menikah dengan ibu mu. Adalah sebuah persimpangan pertama yang harus dijalani untuk memilih sebuah hal berkaitan dengan masa depan keluarga. Disaat itu bapak dihadapankan pada pilihan, jadi guru, bertani, atau berdagang? Sebuah pilihan yang benar-benar membingungkan pada saat itu. Dimana ketika bapak terlambat mengambil keputusan maka keluarga ku akan terjun kedalam garis kemiskinan", begitu cerita bapak dengan suara yang terlihat menerawang masa lalu kehidupannya yang keras. Lagi-lagi belum sempat ku tersadar dengan lamunan masa lalu itu,, bapak pun kembali melanjutkan ceritanya.
"Disaat seperti itu yang Bapak lakukan hanyalah sebuah pilihan yang sederhana, yaitu LAKUKAN. Apapun pilihan itu lakukan dan jalani dulu semuanya, maka nanti kita akan mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berarti dan mendukung kesuksesan dipilah yang terakhir. Pada waktu itu yang bapak jalani dulu adalah pilihan menjadi seorang pengajar, namun karena gaji sangat kecil dan kebutuhan terus meningkat, maka bapak melanjutkan pada pilihan yang nomor dua yaitu berbisnis. Saat itu bapak buka usaha sabuk, jaket, dompet, tas yang terbuat dari kulit binatang. Memilih segmen pasar Bali, bapak pikir adalah sebuah pilihan yang tepat. Hingga akhirnya bapak pun berkelana ke Bali untuk menjajakan hasil home industri itu person to person. Di suatu hari yang sial, setalah berkeliling seharian, bapak tak mendapatkan uang sama sekali, bahkan hnya sekedar ingin minum saja bapak harus pergi ke toilet untuk minum air gratis yang ada di dalamnya. Hufffftttt.....,,, hingga akhirnya dengan senyum semangat yang terkikis, akhirnya bapak duduk termenung di pantai kuta melihat sunset kehidupan yang semakin pudar. Sejenak bapak ingin menangis karena tak bawa uang sama sekali untuk makan Ibu mu dan kakak mu saat itu. Akhirnya setelah berteriak lepas di bibir pantai kuta, bapak berfikir dan memutuskan untuk pulang. Disana sudah menunggu sebidang tanah yang jika digarap dengan sungguh-sungguh disertai ilmu bumi dari dunia pendidikan agar mampu menumbuhkan hasil panenan terbaik serta kemampuan dalam dunia marketing yang diperoleh dari jualan maka bapak yakin akan mampu menggarap sebidang tanah itu menjadi berhektar-hektar tanah. Oleh karena itu, jika kita berani mengambil resiko dari pilihan itu dengan melakukannya, maka kita akan mendapatkan pelajaran yang sangat berarti dalam hidup ini yang akan menunjang kesuksesan kamu dihari esok". begitulah kalimat penutup yang disampaikan oleh bapak terhebat di dunia ini yang pernah aku punya.
Setelah mendapatkan wejangan yang begitu berharga itu, perlahan aku mulai berfikir bahwa tidak ada hal yang lebih hebat dalam hidup ini kecuali berani mengambil resiko, menghadapi tantangan dan melakukan setiap peluang sukses yang kita inginkan. Tidak akan ada kata menyesal setelah itu, karena sebenarnya itu adalah pendidikan yang diberikan oleh alam untuk menempa manusia-manusia tersukses di dunia ini. Karena itu semua adalah STRATEGI KEHIDUPAN yang bijak. Maka dari itu aku semakin yakin bahwa project online bisnis bersegman informasi yang sedang ku bangun berjudul BANGKUSMA.COM akan menuai hasil yang luar biasa. SEMANGAT..... !!!!
Inspiratif sekali, semoga suami ku nanti bisa seulet "Bapak"~~~ posting terus ya @_@
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus