Selasa, 13 September 2011

Cinta = Realita

            Kekasihku adalah kekasih nomor satu di dunia versi perhitungan ranking ku sendiri. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya dia telah mengisi ruang-ruang diantara jemariku lalu kemudian menggenggamnya dengan erat selama 2 tahun lebih. Fisiknya memang tomboy yang menjahui kata feminin, rambutnya memang keriting yang memusuhi kata lurus, namun dia bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan yang aku miliki dengan melengkapinya dengan yang dia miliki. Sungguh indah kisah ini beralur, entah itu maju maupun mundur, namun semuanya benar-benar bertabur dengan nilai-nilai kehidupan. Mungkin inlah yang dinamakan cinta dewasa, dimana kedatangannya diwaktu yang tepat akan menggugah sebuah sisi tanggung jawab.
           Masih teringat sekali ketika dia datang dengan membawa kesejukan diakhir petang. Dia bawa segenggam harapan yang kemudian disiramkannya kepadaku menjadi setetes kekuatan untuk menghadapi hidup yang semakin hari semakin keras. Dia datang disaat bintangku meredup, sehingga tak sempat aku membalasnya dengan rasa bangga karena menjadi bagian dari diriku. Namun itulah dia, entah terang maupun redup keercayaannya dia akan cinta ini telah menyihirku kembali dalam keperkasaan.
          Keindahan cinta itu ternyata telah berkoalisi dengan sang waktu, sehingga membuatnya berjalan begitu cepat. Hangatnya senja disore hari yang pernah kita nikmati selama 2 tahun harus segera menghadapi kenyataan bahwa sang petangpun akan segera menenggelamkan siang. 
Cinta ini adalah nyata
Sayang ini pun juga
Namun kita tetap jangan terlena
         Cinta yang nyata itu adalah TUNTUTAN,, dimana kita harus menjadi sempurna, menjadi yang terbaik dan harus siap saat dihadapkan pada lavel yang lebih tinggi tingkatannya. Dia memang tak pernah menuntutku untuk menjadi sempurna, namun cinta yang nyata senantiasa dihadapkan pada kondisi lingkungan sekitar yang juga nyata. Mereka tak mau peduli, setiap hari terus meluncurkan justifikasi tanpa pernah mau berhenti. Dan aku sadar untuk segera bermetamorfosis menjadi sempurna.

Rabu, 11 Mei 2011

STRATEGI KEHIDUPAN ala BAPAK KU (road to build bangkusma.com)

     Sore itu aku benar-benar gelisah, tat kala fajar mulai menyingsing dan sosok ketakutan akan hari esok perlahan-lahan mulai membayang. Lamunan keraguan terhadap langkah kaki kecil ini tentang suatu kehidupan yang lebih layak seolah terasa berat sekali. Berbagai macam spekulasi-spekulasi berkecamuk memborbadir landasan optimisme yang semakin rapuh karena bimbang. Banyak orang merasa bangga dan bahagya ketika mendapat banyak peluang sukses dalam langkah hidup nya. Dan sekilas pandangan tersebut memang benar, karena akan semakin banyak pilihan berarti akan semakin banyak kesempatan, atau bahkan malah bisa dijalani semuanya. 
     Seperti mata yang sedang berkunang-kunang, tak mampu membedakan garis terang dan gelap secara sempurna, begitulah bingungnya kondisi otak ku saat ini. Terjebak diantara persimpangan kesuksesan yang semakin hari waktu semakin mendesakku untuk segera memilih mana jalan yang terbaik, adalah sebuah hal yang sama seperti memeilih keju atau susu, its deficult to chose once of them.
    Lama aku duduk termenung memandang senja yang temeram ditemani suara nyaring dari burung-burung yang hendak pulang ke kandang. Berdiskusi lirih dengan alam mendengarkan suara bisik sejuknya sedikit membantuku mengerucutkan segala bentuk spekulasi. Namun secara keseluruhan tak mempu mereduksi betapa penatnya pilihan ini.
    Tiba-tiba aku terbangun dalam lamunan semu, dan berusaha menggerayah kehidupan nyata. Disitulah aku teringat pada seorang guru sekaligus orang yang paling ku hormati yang juga merupakan Bapak ku sendiri. Serta merta jemari ini berliyuk-liyuk diatas keypad HP untuk memencet nomor sang suhu kehidupan tersebut.
"Iya halo,,,,", dengan suara serak namun tetap tegas terdengar, suhu kehidupan itu menjawab telphone ku.
"iya pak,,,", jawab ku singkat.

Jumat, 06 Mei 2011

SENYUM DAN HARAPAN

 SENYUM DAN HARAPAN
          Kisah ini bercerita tentang sebuah SENYUM dan HARAPAN dari mereka yang terpinggirkan. Dalam sebuah periuk kesedrhanaan sebuah senyum lugu tersuguh. Hanya dengan singkong rebus yang diatasnya ditaburi prutan kelapa muda, mereka mulai berharap tentang sebuah kehidupan yang lebih layak untuk anak cucunya yang semakin hari waktu terus memaksa mereka untuk tumbuh tanpa mampu diredam. 
         Aku selalu bingung ketika orang bertanya, "Kenapa aku harus menolong mereka?", bagiku itu adalah sebuah kalimat tanya yang sampai kapanpun aku tak mampu menjawabnya. Karena semua ini adalah sebuah naluri hidupku sebagai manusia biasa yang ingin berbagi. Ya,, aku ingin berbagi senyum dengan mereka semua, hingga akhirnya kami berani berharap bahwa selalu ada kesempatan untuk merubah takdir hidup ini

Kamis, 10 Maret 2011

Cacing Imut Bocah Dhugal

Lama aku berdiri disudut parit yang eksistensinya semakin rapuh. Mata ini mengobservasi tiap jengkal lahan yang kian lama semakin menyempit. Debu-debu tanah seolah menyapa dan mengadu padaku tentang nasibnya yang tak lagi menjadi bagian keindahan dari kampung halaman ku. Saraf-saraf perifer yang dari tadi berdenyut mengencang seolah mengkuak kembali kisah manis di masa lalu yang semakin menggoda tiap senyumku. 

Ditempat aku berdiri ini dulu adalah zona bebas orang tua yang membuat kami selalu riang gembira menghabiskan masa kanak-kanak bersama sahabat kecilku. Masih teringat jelas dalam lamunan ini ketika kami berlarian tunggang langgang saat pak mantri mengambil tongkat rotannya sambil meneriaki kami,
"Dughallllll".
Pak mantri adalah seorang pegawai perhutani yang bertugas di daerah ku. Karena pengabdian dan dedikasinya yang luarbiasa terhadap negara, akhirnya beliau diberi sebidang tanah yang letaknya tak jauh dari zona bermain kami. Entah siapa nama beliau hingga saat ini aku tak tau. Yang aku tau adalah seorang lelaki sudah berumur dengan tingkat kedisiplinan tinggi dan super duper galak. Apa lagi kalau tanaman dan ikan kesayangannya di kolam depan rumah diganggu dengan ulah bocah-bocah dughal macam kami. Hmmmmm pasti dia akan segera mengeluarkan tongkat rotan keramatnya untuk menakut-nakuti kami.

Senin, 28 Februari 2011

Cinta Diujung Bahu

Mendung berontak menenggelamkan keperkasaan sang surya. Riuh guntur menggelegar menciptakan nada-nada rendah tak beraturan yang membuat para malaikat enggan mendekatinya. Angin dan rintik-rintik air halus berkoalisi dengan gelapnya suasana yang mencoba mencekam seluruh isi kehidupan.
"Cak, tolong segera tutup sargasumnya dengan terpal", teriakku pada seseorang bertubuh legam kekar yang dari tadi tak henti-hentinya berusaha menyelamatkan sargasum yang hendak di eksport.
"Iya mas..", sambil berlarian tunggang langgang bersama dengan garuk mungilnya, kuli paruh baya itu mengikuti setiap instruksi ku.

Tak lama berselang, sang hujan yang sama sekali tak kami inginkan kedatangannya di siang itu mengucur dengan bahagyanya membasasi tumpukan sargasum yang belum sempat terselamatkan. Dengan mata nanar berbinar, para kuli hanya bisa meratapi tumpukan-tumpukan sargasum yang jika kering akan menjadi penyambung hidup dia dan keluarga. Sargasum telah basah, harapan merekapun pupus seketika. Nilai rupiah yang dijanjikan tak bisa berubah menjadi nyata jika sargasum tak kering sampai akhir senja.
Ada yang menghela nafas, ada yang membuka baju dan meletakkannya dikepala, serta ada juga yang hanya duduk melamun tanpa sepatah kata yang terucap. Sedangkan sang mandor hanya bisa berteriak dan memaki-maki mereka karena bekerja lambat dan tak bisa menyelamatkan tumpukan daun-daun sargasum itu.

Minggu, 27 Februari 2011

Jodoh ku no 4

"Uhukkk,,,, uhukkkk,,, uhukkk,,,, hmmmmm", tersedak aku mendengar kalimat bapak tua berkulit hitam keriput itu. Perlahan-lahan ku hela nafas dalam-dalam sambil memandang tangan putih pucat ku yang dari tadi mencoba menahan rembasan keringat dingin yang mencoba menyusup dari balik pori-pori diantara jaringan epidermis.
"Jodoh mu adalah yang no 4", kata-kata dari bapak tua misterius itu terus terngiang-ngiang dibenak ku. Beberapa spekulasi-spekulasi tak wajar mulai berkecamuk seperti perang teluk yang pernah terjadi di dunia ini.

Dentuman-dentuman api kewaspadaan menyergap setiap harapan yang pernah tertuang dari balik gudang mimpi. "Dia adalah pilihanku untuk saat ini dan semoga seterusnya. Betapa aku menggantungkan asa pada seseorang yang mengisi hari-hari ku selama tiga tahun ini, pasti bapak tua itu sedang berkhayal. Atau mungkin dia mencoba merayuku untuk dijadikan istri ke 10 nya  dengan memberikan sinyal bahwa dia adalah orang ke 4 itu." Pekikku dalam hati seolah menghadang setiap serangan kata-kata yang menghujam dari bapak tua yang dari tadi tanpa berkedip menatap setiap guratan telapak tangan kuseolah-olah dia mampu membaca sebuah rahasia Tuhan yang digoreskan dalam lembaran telapak daging ini.

"Yang ini adalah cinta semu mu, sedangkan yang ke 4 adalah cinta abadi mu", hardik pak tua itu yang terus menerus mencoba membongkar pertahanan kepercayaan ku. Secara perlahan tapi pasti, mirip dengan reaksi redoks yang distimulus oleh para enzim, kata-kata pak tua itu mulau memperdayaiku dengan cara hinggap dibawah memory tak sadar ku.
"Ah sudahlah pak, terimakasih telah meramalku", jawab ku singkat untuk segera mengakhiri percakapan yang tak masuk logika itu.

Jumat, 25 Februari 2011

Sayup Luruh di Pojok Kampung

Gemercik angin yang saling bekerjaan, kicau burung pecah kesunyian.....
Hijaunya clorofil dedaunan saling memantulkan kilau dari lapisan lilin yang melindungi tumpukan sel-selnya. Tetes jernihnya embun pagi membasahi sejuknya kehidupan yang dibangunkan oleh sang mentari. Bagi kami, tumpukan kemesraan alam diwaktu pagi itu adalah energi semangat yang membuat semuanya menjadi megah.

Energi itupula yang membuat para bocah kampung seperti kami terus menerus dengan tanpa pernah berhenti untuk melambungkan asa. Keterbatasan ekonomi dan fasilitas adalah merupakan tantangan yang harus kami jawab dan pecahkan bersama. Begitu pula yang selalu ku lakukan bersana keempat sahabat kampung ku.

Pagi berangkat sekolah, siang membantu orang tua, sore berangkar mengaji, malam belajar kelompok. Itu adalah strategi paling canggih yang pernah kami lakukan untuk dapat mengatasi masalah sambil terus membentengi diri dengan kasanah agama.

Malam itu adalah kejadian yang tak pernah terlupakan dalam hidup ku. Ketika saudari kampungan ku yang bernama Iin harus membiarkan air matanya meluncur deras diantara parit-parit pipi yang kasar karena hempasan serbuk-serbuk batang kedelai dimusim panen.
"Mungkin aku tak bisa bersama kalian lagi", seru Iin sambil mengumandangkan syair-syair kesedihan dari bibir mungil nya.
"Kenapa in?", teriak ku mengintervensi setiap pondasi pertahanan masalahnya.
"Ojo nangis in", ucap mas Hartono sembari mengelus-elus kepala Iin.
"Aku harus berpisah dengan kalian rek...." jawab iin memandangi wajah kami satu persatu.
"kamu mau nyusul bapak mu di malaysia tah in?" sambung yanto yang semakin memelas.
"Enggak yan, aku bulan depan akan menikah", kata iin yang dari tadi tak pernah berhenti menggaungkan tangis nya.
"Hahhhh?????.... kamu baru kelas 6 in".... timpal mas Hartono yang tidak percaya.
"Iyo mas, karena hanya dengan aku menikah dengan Lek Dhar, aku bisa membantu ibu melunasi hutang2nya", jawab iin dengan menanarkan mata.

Karya dan Pringisan Bocah Kampung

Hari ini aku menatap berjuta ingatan yang tergores dalam memory di kepala tentang segala kisah terindah semasa aku masih berusia belia. Rasanya masih ingat betul ketika aku dengan badan bercucuran keringat yang menyusup dari sela-sela pori-pori muda ku, berlari sekencang-kencangnya sambil mendorong mobil-mobilan mewah yang terbuat dari kulit jeruk Sunkis begitu pula rodanya terbuat dari bahan yang sama. Tak peduli betapa lelahnya aku mendorong mobil-mobilan itu hingga ban nya terlepas dari poros utama. Yang ada hanya rasa riang bukan kepalang saat aku menjadi yang pertama melewati garis finish sederhana hasil karya mas Jono menggoreskan pucuk sabitnya pada tanah coklat pekat di area kebun kopi mbah Tumbar.
Aku: "Ayo yanto!!!, kamu bisa menyusul ku di urutan ke 2", seru ku berteriak pada Yanto sahabat ku di masa belia.
Hartono: "Jangan meremehkan ku", ucap mas hartoono dengan lantang sambil mendorong mobil-mobilan itu sambil melewati batu cadas bekas galian sumur Mbah Tumbar.
Mas Jono: "Finishhhhhhhhh....." teriak mas jono sambil mengibarkan bendera finish yang terbuat dari pucuk daun pisang berwarna hijau pupus di hadapan muka mas Hartono.
Kami pun bersorak sorai laksana para pembalap F1 yang telah menyelesaikan semua lap dalam lomba. Dangan wajah cerah disertai senyum yang merekah, ku lambaikan tangan ku kepada para penonton setia kami yang asik mematuk-matuk sisa-sisa biji jagung di tanah sambil berteriak "Kukuruyuuuuuukkkkk".

Entri Populer