Jumat, 25 Februari 2011

Karya dan Pringisan Bocah Kampung

Hari ini aku menatap berjuta ingatan yang tergores dalam memory di kepala tentang segala kisah terindah semasa aku masih berusia belia. Rasanya masih ingat betul ketika aku dengan badan bercucuran keringat yang menyusup dari sela-sela pori-pori muda ku, berlari sekencang-kencangnya sambil mendorong mobil-mobilan mewah yang terbuat dari kulit jeruk Sunkis begitu pula rodanya terbuat dari bahan yang sama. Tak peduli betapa lelahnya aku mendorong mobil-mobilan itu hingga ban nya terlepas dari poros utama. Yang ada hanya rasa riang bukan kepalang saat aku menjadi yang pertama melewati garis finish sederhana hasil karya mas Jono menggoreskan pucuk sabitnya pada tanah coklat pekat di area kebun kopi mbah Tumbar.
Aku: "Ayo yanto!!!, kamu bisa menyusul ku di urutan ke 2", seru ku berteriak pada Yanto sahabat ku di masa belia.
Hartono: "Jangan meremehkan ku", ucap mas hartoono dengan lantang sambil mendorong mobil-mobilan itu sambil melewati batu cadas bekas galian sumur Mbah Tumbar.
Mas Jono: "Finishhhhhhhhh....." teriak mas jono sambil mengibarkan bendera finish yang terbuat dari pucuk daun pisang berwarna hijau pupus di hadapan muka mas Hartono.
Kami pun bersorak sorai laksana para pembalap F1 yang telah menyelesaikan semua lap dalam lomba. Dangan wajah cerah disertai senyum yang merekah, ku lambaikan tangan ku kepada para penonton setia kami yang asik mematuk-matuk sisa-sisa biji jagung di tanah sambil berteriak "Kukuruyuuuuuukkkkk".

Senja mulai memejamkan mata sayunya dalam buaian selimut sang petang, namun para bocah-bocah desa ini tak menyurutkan pesta poranya dalam ajang permainan kampung yang mempesona. Pesta riang tersebut terus berlanjut hingga terdengar suara nyaring melengking dan menakutkan dari wanita paruh baya berambut ikal serta membawa sapu lidi sebagai senjata utamanya. Sontak kami berlari tunggang langgang menghindari serbuan wanita itu. Ada yang bersembunyi di balik pohon kopi, semak-semak, kandang ayam bahkan ada juga yang dengan cekatan menaiki pucuk-pucuk pohon kopi. Sedangkan aku sendiri ditemani nafas yang terengah-engah, berusaha menyembunyikan tubuh mungil ku di balik pohon pisang tua dengan buahnya yang ranum.

Sambil mengendap-endap seperti detektif conan, sesekali kuberanikan mengintip wanita galak itu... Hmmmmmm alamak,,,,, ternyata wanita yang bersuara nyaring melengking itu adalah ibu ku.
"Wikeeeee,,,,,, keluar kamu", teriak ibu ku sambil memicingkan matanya mengobservasi setiap jengkal kebun kopi mbah Tumbar.
"Cepat pulang dan mandi, ibu akan menghitung sampai 3. 1....2.....", pekik ibu ku kembali yang sama sekali tak merendahkan nada suaranya.
Dengan langkah takut dan malu aku keluar perlahan-lahan dari balik benteng persembunyian ku, dan seketika itu juga tangan ibu yang lembut mencengkeram erat urat-urat leher telingaku hingga membuat lonjakan asam laktat di wilayah telinga hingga leherku naik..
"aduuuuhhhh ampunnn bu,,,, ampuuunnnn",,, teriak ku memohon ampun pada wanita yang paling aku sayangi didunia itu.

Selalu ada senyum yang tersungging menghiasi indahnya bibir ku ketika memory otak ini memutar kembali kaset rekaman dari kejadian-kejadian masa kecil ku. Betapa bahagyanya aku menjalani kehidupan sebagai bocah kampung yang bersahaja menikmati setiap detik demi detik moderenisasi. Meskipun tak mengenal Playstation, Black Barry, Ipad, maupun laptop, namun sebongkah kulit jerukpun sudah mampu menjadi sumber kebahagyaan bagi kami para generasi muda bangsa yang tak pernah mati akan kreatifitas. Kami memang tak mampu membeli mobil remot control yang harganya bisa sama dengan beras sekarung, namun dalam indahnya keterbatasan itu kami mampu membuat mobil mainan kami sendiri. Dan itulah kami kawan... Bocah kampung dengan segudang kreatifitas tanpa batas.

Sedetikpun kami tak pernah mati berkarya, sejengkalpun kami tak pernah mundur dan menyerah melawan modernisasi yang terus memojokkan tempat-tempat bermain kami yang dulu begitu indah. maka banggalah kami mendengar hinaan kalian yang selalu menyebut generasi tanpa modernisasi ini dengan sebutan BOCAH KAMPUNG....

1 komentar:

Untuk kesempurnaan karya selanjutnya,,,,,, Mohon diisi komentarnya ya.... Matur nuwun...

Entri Populer