Jumat, 06 Mei 2011

SENYUM DAN HARAPAN

 SENYUM DAN HARAPAN
          Kisah ini bercerita tentang sebuah SENYUM dan HARAPAN dari mereka yang terpinggirkan. Dalam sebuah periuk kesedrhanaan sebuah senyum lugu tersuguh. Hanya dengan singkong rebus yang diatasnya ditaburi prutan kelapa muda, mereka mulai berharap tentang sebuah kehidupan yang lebih layak untuk anak cucunya yang semakin hari waktu terus memaksa mereka untuk tumbuh tanpa mampu diredam. 
         Aku selalu bingung ketika orang bertanya, "Kenapa aku harus menolong mereka?", bagiku itu adalah sebuah kalimat tanya yang sampai kapanpun aku tak mampu menjawabnya. Karena semua ini adalah sebuah naluri hidupku sebagai manusia biasa yang ingin berbagi. Ya,, aku ingin berbagi senyum dengan mereka semua, hingga akhirnya kami berani berharap bahwa selalu ada kesempatan untuk merubah takdir hidup ini.
         Masih teringat begitu jelas dalam kotak kecil yang bersemayam diantara neuron-neuron saraf otak yang senantiasa membungkus kejadian-kejadian yang pernah terjadi di masa lalu. Hari itu aku masih mengenakan jas almamater berwarna biru tua lambang dari kebesaran perguruan tinggi dimana aku menuntut ilmu dan mengabdikan diri sebagai mahasiswa. Di hari yang panas menyengat dengan debu jalanan yang semerbak, mengiringi teriakan dan pekikan ku dalam berorasi dihadapan kawan-kawan demonstran yang terus memanas karena para aparat terus menggertakkan tamengnya menghalau kami semua. 
        Tak pelak, bentrokan kecilpun tak terhindarkan ketika iring-iringan mobil RI 1 melintas dihadapan kami. Dengan tenaga yang masih tersisa, kami berteriak sekuat tenaga hingga pita suara ini ingin putus rasanya. Kami berharap, suara kami didengar oleh presiden terpilih tersebut, hingga perubahan tentang perbaikan kehidupan dinegeri yang kaya raya ini benar-benar dijalankan. 
        Namun rupanya gema suara yang terdengung seperti ribuan kumbang penghisap madu di peternakan eyang ku tersebut sama sekali tak mampu menembus kaca peredam mobil mewah yang berpelat nomor RI 1 tersebut. Hingga, mobil hitam mengkilap itu melenggang dengan nyaman tanpa mengindahkan kami yang dari pagi menanti di persimpangan jalan. Makian demi makian mulai terseru dari kawan-kawan demonstran, hingga memancing pertikaian antara kami dan polisi yang tak kalah berang mengamankan situasi. Keributan tersebut semakin memanas, masa sulit terkendali, hingga jalan harus ditutup karena seluruh demonstran turun memadati jalan.
        Diantara hiruk pikuk demonstrasi yang terjadi, aku mendengar ada seseorang bapak tua yang dengan wajah muram duduk didalam mobil angkutan umum berwarna biru sambil terus menerus mengepulkan asap dari rokok keretek yang dari tadi dihisapnya. 
"Lapo seh, sak jane karepe mahasiswa iki?? "
"Perjuangkan nasib rakyat miskin,,, cuiiihhhh,,,, Teles Ketip"
"Malah kon-kon kabeh iki seng gak ngerti wong cilik"
"Goro-goro demo mu iki, sandang pangan ku mati"
"Lek koyok ngene kan aku gak iso golek penumpang"
artinya
"Apa sih sebenarnya mau mahasiswa?"
"Perjuangkan nasib rakyat miskin,,, cuiiiihhh,,,, Pantat ayam"
"Malah kalian semua ini yang tidak mengerti orang kecil"
"Gara-gara demo kalian ini, aku tidak bisa cari sandang pangan"
"Kalo seperti ini, kan aku malah tidak bisa cari penumpang"
Kata-kata sederhana dari bapak tua yang terus bergumam sambil mengelap keringatnya dengan handuk putih dileher tersebut benar-benar mengiris bilik-bilik jantung ku. Rasa-rasanya, perjuangan kami melalui jalur demonstrasi benar-benar seperti tidak berguna sama sekali. 


          Namun apalah mau dikata, mereka lah rakyat kecil yang selama ini kami perjuangkan. Setiap pekikan yang penuh emosi terhadap para penguasa dinegeri ini sebenarnya kami lakukan hanya demi mereka, akan tetapi kenapa mereka malah membalas kami dengan celaan? Apakah stereotipe tentang mahasiswa yang hanya jago berdebat dan demonstrasi namun tak mampu berbuat apa-apa ketika dihadapkan pada kondisi lapang yang sbenarnya itu adalah sebuah hal yang benar? Ataukah mereka hanya segelintir rakyat kecil yang tak memahami arti dari sebuah demonstrasi yang sesungguhnya?
         Entahlah,,, apapun itu memang tak bisa disikapi hanya dari sebelah sisi. Namun seuntai kata-kata dari bapak tua itu telah mengoyak pendirian ku yang selama ini menganggap demonstrasi adalah salah satu jalan yang evektif untuk menyampaikan aspirasi. Lama aku duduk merenung dan terdiam diatas trotoar berwarna putih biru dengan segelas air mineral ditangan ku. Saraf perifer ini tak henti-hentinya berdenyut dan terus berfikir tentang asumsi-asumsi dari sebuah pengabdian generasi muda terhadap bangsa dan negara. Keraguan dan keyakinan terhadap idealisme terus berperang di dalam kepalaku sampai berhari-hari lamanya.
        Dengan tetap berfikir tegas dan bersuara lantang, ku ungkapkan gagasan pemikiran ku tentang sebuah kegiatan sosial yang berbasis pengabdian masyarakat kepada kawan-kawan seperjuangan ku.
"Percumah kita hanya bisa bersuara kawan, tanpa sebuah realisasi tindakan yang jelas di masyarakat". Begitulah seru ucapku kepada sahabat-sahabat perjuangan ku yang dari tadi menyimak setiap ide dan gagasan  yang ku tuangkan. 
"Lalu apa tujuan jangka panjang dari kegiatan ini mas?", sahut Titian yang dari tadi mendengarkanku dengan tatapan mata tajam.
"Tujuan jangka panjang nya adalah mengentaskan kemiskinan dengan memutar roda perekonomian mereka", sahut ku menanggapi partanyaan Titian.
"Berapa lama kita akan melakukan program ini? bagaimana jika nanti kita sudah lulus?", timpal Franz yang mulai serius menyahut diskusi kami malam itu.
"Aku sendiri juga tak tahu sampai berapa lama, tapi yang jelas sampai kemiskinan musnah dari hadapan kita, jika nanti kita sudah llulus, maka adik-adik kita yang berkewajiban melanjutkannya dan kita akan mensupport setiap program-programnya", jawab ku dengan mencoba menjelaskan konsepan ini secara gamblang.
"Pengentasan kemiskinan,, hmmmm,,,, project yang bagus sam, tapi dimana kita akan melakukan project itu?" celetuk Lion mengerucutkan pembahasan kami tentang gagasan mulia itu.
"Malang Selatan, Gua Cina", jelasku kepadanya dengan penuh keyakinan.
"Kenapa harus tempat itu yang dipilih?", teriak Miftah yang merupakan anggota termuda kita.
"Karena itu merupakan desa pesisir yang belum tersentuh pembangunan, dan kita sudah pernah pergi kesana", sahutku dengan optimis.
         Diskusi panjang malam itu merupakan awal dari langkah kami melakukan sebuah hal hebat yang tak pernah kami pikirkan sebelumnya. Bahkan aku sendiri pun tak pernah berfikir jika hal sosial yang kami lakukan tersebut mampu menyambung tali keluarga yang telah terputus selama puluhan tahun dan mampu membuat kami semua bangga sebagai manusia yang bisa bermanfaat untuk orang lain...

TO BE CONTINUED . . . . .
Tunggu upload yang selanjutnya ya,,, ,,, ,,, 
PERSAHABTAN SELAMANYA

4 komentar:

  1. Lanjutkan perjuanganmu sobat.....

    BalasHapus
  2. Muantabbbb banget bro, memang saat ini kita butuh tindakan nyata bukan hanya sekedar demonstrasi. Percumah jika kita hanya bisa menuntut tanpa memberikan solusi. Segera di upload cerita selanjutnya tantang senyum dan harapan, penasaran aku dengan langkah apa yang selanjutnya kalian lakukan?? semnagat terus.
    by: Aliansi Pemuda Pembaharuan

    BalasHapus
  3. Ok, terimakasih kawan. . Perjuangan selalu berlanjut dan tak akan berhenti sampai tidak ada rakyat miskin lagi di negeri ini. Thx commentnya.

    BalasHapus
  4. Ya memang itulah tindakan yang seharusnya kita lakukan sebagai agent of change. Rakyat butuh tindakan nyata dari kita sebagai insan pembaharuan. Semoga kawan-kawan dari Aliansi Pemuda Pembaharuan bisa bergabung dengan kita dalam melakukan tindakan sosial untuk masyarakat. Postingan selanjutnya akan segera di upload kok tenang saja.. thx 4 the comment..

    BalasHapus

Untuk kesempurnaan karya selanjutnya,,,,,, Mohon diisi komentarnya ya.... Matur nuwun...

Entri Populer