Mendung berontak menenggelamkan keperkasaan sang surya. Riuh guntur menggelegar menciptakan nada-nada rendah tak beraturan yang membuat para malaikat enggan mendekatinya. Angin dan rintik-rintik air halus berkoalisi dengan gelapnya suasana yang mencoba mencekam seluruh isi kehidupan.
"Cak, tolong segera tutup sargasumnya dengan terpal", teriakku pada seseorang bertubuh legam kekar yang dari tadi tak henti-hentinya berusaha menyelamatkan sargasum yang hendak di eksport.
"Iya mas..", sambil berlarian tunggang langgang bersama dengan garuk mungilnya, kuli paruh baya itu mengikuti setiap instruksi ku.
Tak lama berselang, sang hujan yang sama sekali tak kami inginkan kedatangannya di siang itu mengucur dengan bahagyanya membasasi tumpukan sargasum yang belum sempat terselamatkan. Dengan mata nanar berbinar, para kuli hanya bisa meratapi tumpukan-tumpukan sargasum yang jika kering akan menjadi penyambung hidup dia dan keluarga. Sargasum telah basah, harapan merekapun pupus seketika. Nilai rupiah yang dijanjikan tak bisa berubah menjadi nyata jika sargasum tak kering sampai akhir senja.
Ada yang menghela nafas, ada yang membuka baju dan meletakkannya dikepala, serta ada juga yang hanya duduk melamun tanpa sepatah kata yang terucap. Sedangkan sang mandor hanya bisa berteriak dan memaki-maki mereka karena bekerja lambat dan tak bisa menyelamatkan tumpukan daun-daun sargasum itu.
Sisimausiawi ku tergerak, berbekal kedekatan emosional dengan Mr awen yang notabene adalah importir dari china, aku berusaha mencarikan pekerjaan buat mereka. wal hasil para kuli jalanan itu mendapatkan kerja tambahan dengan konsekuensi bekerja lembur untuk mengepak tumpukan cottony yang sudah menggunung di gudang Meiko 3.
Malam telah bergulir menjelang, bintang yang sejak petang bersembunyi dari amukan hujan, kini mulai berani menampakkan sinarnya. Sedangkan para kuli dengan keringat bercucur dan debu-debu liar yang menghinggapi tubuh kekarnya tetap mencengkerama tumpukan cottony yang besok harus siap di eksport. Di sela mengistirahatkan otot-otot kekarnya, sambil ditemani dengan gulungan nikotin yang mengepul dari bibir hitam dan berkerut, aku bertanya pada pahlawan keluarga itu.
"Pak de, dari tadi siang kerja gak ada capeknya, jamunya apa sih?", goda ku pada seorang kuli tua yang akrab dipanggil Pak De.
"Jamunya tangis anak istri mas", jawab dia singkat dengan masih menikmati gulungan nikotn itu.
Sungguh jawaban yang sangat mengiris hati kawan, pria yang sudah berumur itu tetap memaksakan dirinya bergelut dengan beratnya karung yang harus dipikulnya.
Seiringkali para lelai-lelaki tak puuya pilihan itu juga tak bisa berbuat apa-apa dengan cinta mereka. Karena kebutuhan keluarga yang meningkat sedangkan rupiah tak berpihak maka banyak dari mereka yang harus mengkandaskan biduk percintaannya. Sehingga serngkali ada stlah dikalangan mereka "Cnta hanya ada dujung bahu", begitu celetuk salah seorang kuli muda yang baru saja kehilangan kekasihnya yang dibawa kabur oleh pekerja kantoran.
Ini adalah sebuah fakta dibalik kekayaan indonesia, yang seharusnya dengan kekayaannya sang ibu pertiwi mampu mensejahtrakan kehidupan setiap anak bangsa. Mungkn benar suatu istilah yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah kutukan, namun sayangnya yang dikutuk bukanlah mereka-mereka yang rakus mengeruk kekayaan negeri ini, melainkan mereka-mereka yang dengan polos berusaha mempertahankan kehidupan dtengah langkanya rupiah yang semakn susah dicari. Malam itupun ku putuskan untuk tidur bersama mereka digudang berbentuk persegi panjang yang hanya beralaskan karung-karung goni. Rasa dingin yang menusuk tulang dan nyamuk-nyamuk dengan kejam menancapkan alat penghisapnya pada jaringan epidermis kulit ini.
Beginilah cara mereka bertahan, begnilah cara mereka mengucapkan syukur, beginlah cara mereka hidup. Dengan menikmati setiap beban berat yang diangkut diujung bahu-bahu kekarnya dan menerma kesejukan melalui setetes air mneral, mereka mencoba berbuat lebih untuk keluarga.
Semoga kelak ada orang yang mamu memperhatikan nasb mu wahai para pria yang tak memiliki banyak pilhan..
~Dipersembahkan untuk para pahlawan-pahlawan keluarga~
kata2 yg ditulis berat bgt.. kamu cocok jd pujangga majas personifikasi mas..
BalasHapusBekerja secara produktif adalah merupakan ciri dan karakteristik seorang muslim yang terbaik sesuai dengan implementasi hadits Nabi, Tangan di atas (yang memberi) adalah jauh lebih baik daripada tangan di bawah (yang menerima). Oleh karena itulah pada hadits lain Nabi bersabda, : Andainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu jauh lebih baik daripada ia meminta-meminta pada seseorang yang kadang-kadang diberi dan kadang-kadang ditolak.
BalasHapusBekerja disamakan dengan Jihad Fi Sabilillah. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi, :Kalau ia bekerja hendak menghidupkan anak-anaknya yang masih kecil, ia adalah jihad fi sabilillah. Kalau ia bekerja untuk membela kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, iapun disebut jihad fi sabilillah. Kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, ia adalah jihad fi sabilillah.
Sovy: hehehe itu memang gaya penulisan ku sovy,,, karena akuberharap pembaca akan menjadi cerdas setelah membaca karya ku... trims ya untuk kunjungannya...
BalasHapusBung Dany: Betul sekali bung Dan.... bekerja sama dengan berjuang. NAmun sayang nya belum banyak masyarakat di negeri kita yang paham hakikat dari jihat dan bekerja.....
BalasHapus